12 Upacara Adat Yogyakarta Yang Masih Ada Hingga Kini

Upacara Adat Yogyakarta – Indonesia, dengan keberagaman budayanya, menjadi sebuah negeri yang kaya akan tradisi dan adat istiadat. Setiap daerah di Indonesia memiliki keunikan tersendiri dalam melestarikan budayanya.

Dalam konteks ini, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menjadi salah satu tempat yang sangat kaya akan keberagaman upacara adatnya.

Upacara-upacara ini tidak hanya memperkaya warisan budaya, tetapi juga menjadi simbol kekayaan spiritual dan historis masyarakat Yogyakarta.

Mari kita telusuri beberapa upacara adat yang masih dijaga dengan baik di provinsi ini.

Ragam Upacara Adat Yogyakarta

Yogyakarta, sebuah provinsi yang bersebelahan dengan Jawa Tengah, dikenal karena kelestarian kultur budayanya. Salah satu upacara adat yang sangat terkenal di daerah ini adalah pembukaan cupu panjala.

Informasi lebih lanjut dapat ditemukan dalam ulasan berikut

#1. Upacara Adat Sekaten

Setiap tahun, Keraton Yogyakarta meriahkan atmosfernya dengan menggelar upacara adat yang disebut Sekaten selama 7 hari.

Upacara Sekaten ini telah menjadi bagian sejarah sejak zaman kerajaan Demak. Merupakan perhelatan yang penuh kegembiraan, upacara ini diadakan untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Nama “Sekaten” berasal dari credo, sebuah istilah dalam Islam yang memiliki arti Syahadatain. Keunikan upacara ini tergambar dari penggunaan alat musik tradisional Yogyakarta seperti Gamelan Sekati, K.K. Guntur Madu, dan K.K. Nagawilaga.

Alat musik tersebut berasal dari Keraton dan dipasang di Pagongan Selatan dan Utara, dekat Masjid Gedhe yang terletak di kompleks Keraton.

#2. Upacara Adat Nguras Enceh

Nguras enceh adalah upacara adat yang digelar setiap Jumat Kliwon atau Selasa Kliwon, bertepatan dengan bulan Suro dalam kalender Jawa.

Pelaksanaannya melibatkan pembersihan gentong-gentong di makam raja-raja Jawa di Imogiri, Bantul, D.I. Yogyakarta. Tujuannya adalah menjaga kebersihan hati dari segala hal yang tidak suci.

#3. Upacara Adat Tumplak Wajik

Tumplak wajik adalah perayaan yang diadakan untuk membuat wajik, sebuah makanan khas Yogyakarta terbuat dari beras ketan dan gula kelapa.

Acara ini biasanya dilaksanakan sebagai bagian dari persiapan upacara garebeg, tepatnya 2 hari sebelum pelaksanaan garebeg dimulai. Dalam acara ini, seorang tokoh penting dari keluarga keraton hadir untuk memeriahkannya.

Musik khas Jogja akan mengiringi jalannya acara, dengan ansambel lesung-alu (penumbuk padi), kentongan, dan alat musik tradisional lainnya yang turut menyemarakkan suasana.

#4. Upacara Adat Siraman Pusaka

Siraman Pusaka, sebuah upacara adat yang berakar dari Keraton Yogyakarta, memiliki tujuan membersihkan semua benda pusaka yang dimiliki.

Pelaksanaannya rutin dilakukan setiap Kamis Kliwon atau Selasa Kliwon yang bertepatan dengan bulan Suro, dilaksanakan selama dua hari dari pagi hingga siang.

Benda-benda pusaka yang mendapat perhatian pembersihan melibatkan tombak, keris, pedang, kereta perang, ampilan, dan sejenisnya.

Upacara siraman pusaka ini juga melibatkan beberapa pusaka penting milik Keraton Yogyakarta seperti Tombak K.I Ageng Plered, Keris K.I Ageng Sengkelat, dan Kereta Kuda Jimat Nyai. Pembersihan untuk pusaka K.I Ageng Plered dan K.I Ageng Sengkelat dilakukan langsung oleh pihak Sri Sultan.

Setelah pusaka-pusaka penting dibersihkan, giliran pusaka lainnya dibersihkan oleh para Pangeran, Wayah Dalem, dan Bupati.

#5. Upacara Adat Rebo Pungkasan

Upacara Rebo Pungkasan diadakan pada hari Rabu terakhir bulan Safar, mengacu pada sistem penanggalan Jawa.

Anda dapat menyaksikan upacara ini di Desa Wonokromo, Pleret, Bantul, Yogyakarta. Berdasarkan sejarah, upacara Rebo Pungkasan telah eksis sejak tahun 1784, dimulai oleh tokoh masyarakat bernama Mbah Kyai Faqih Usman.

Pemilihan hari terakhir bulan Safar menjadi spesial karena pada saat itu Mbah Kyai dan Sultan Hamengkubuwono pertama kali bertemu.

#6. Upacara Adat Saparan Bekakak

Desa Ambarketawang, yang terletak di Kecamatan Gamping, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, menyelenggarakan tradisi unik yang dikenal dengan Saparan Bekakak.

Tradisi ini melibatkan penyembelihan Bekakak, sepasang boneka pengantin Jawa yang terbuat dari tepung ketan.

Pelaksanaannya berlangsung setahun sekali, pada bulan Safar menurut kalender Jawa, menambahkan nuansa khas pada tradisi yang unik ini.

#7. Upacara Adat Grebeg Muludan

Upacara Grebeg Muludan diadakan tiga kali setahun mengikuti sistem penanggalan Jawa, khususnya pada tanggal:

  • 12 bulan Mulud (bulan ke-3 dalam penanggalan Jawa)
  • 1 bulan Syawal (bulan ke-10 dalam penanggalan Jawa)
  • 10 bulan besar (bulan ke-12 dalam penanggalan Jawa)

Pada hari-hari Grebeg Maulud, seorang yang berpangkat sultan memberikan sedekah kepada rakyatnya sebagai tanda syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas kemakmuran yang diberikan.

#8. Upacara Adat Kupatan Jolosutro

Kupatan Jolosutro adalah upacara tahunan yang diadakan selama musim panen di desa Jolosutro, kecamatan Bantul, Yogyakarta.

Upacara ini menampilkan ketupat dengan bentuk yang unik, memiliki dimensi besar mencapai 365×35 cm, dan dibungkus dengan daun gebang.

Tujuan Kupatan Jolosutro adalah ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas kesejahteraan yang diberikan selama tahun tersebut.

#9. Upacara Adat Bathok Bolu Alas Ketonggo

Bathok Bolu Alas Ketonggo adalah upacara adat asal Sambiroto, desa Purwomartani, Kecamatan Kalasan, Sleman, Yogyakarta.

Digelar setiap tanggal 10 bulan Suro, upacara ini memperingati nilai-nilai luhur dari putra Sultan Hamengku Buwono V, Pangeran Ganthi atau Sujono. Acara biasanya dimulai sekitar pukul sembilan malam.

#10. Upacara Adat Jodhangan Goa Cerme

Jodhangan Goa Cerme adalah upacara adat yang berlangsung di Selopamioro, Imogiri, Bantul, pada hari Minggu Pahing, bulan Suro menurut kalender Jawa.

Tujuannya adalah sebagai wujud rasa syukur masyarakat kepada Sang Pencipta dan doa agar tahun mendatang selalu diberikan keselamatan, kesehatan jasmani, dan rohani.

Acara berlangsung di halaman depan Goa Cerme yang terletak di bukit Imogiri. Masyarakat membersihkan desa sebelum acara dimulai dan melakukan kirab sejauh 1 kilometer dengan pakaian khas Jawa sebagai bagian dari upacara ini.

#11. Upacara Adat Labuhan Parangkusumo

Labuhan Parangkusumo adalah upacara adat yang berasal dari Daerah Istimewa Yogyakarta, mencatat sejarahnya sejak masa kepemimpinan Kerajaan Mataram Islam di Yogyakarta pada abad ke-XIII.

Masyarakat meyakini bahwa pelaksanaan Labuhan Parangkusumo membawa keselamatan, ketentraman, dan kesejahteraan. Upacara ini diadakan di empat lokasi yang berjarak jauh satu sama lain, masing-masing dengan latar belakang sejarahnya:

  1. Dlepih, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah
  2. Parangtritis, di sebelah selatan Yogyakarta
  3. Puncak Gunung Lawu
  4. Puncak Gunung Merapi

#12. Upacara Adat Pembukaan Cupu Panjala

Pembukaan Cupu Panjala adalah tradisi meramal yang dilakukan dengan menggunakan kain kafan sebagai media pembacaan ramalan.

Tradisi ini telah ada sejak zaman dahulu dan dilaksanakan pada musim kemarau di bulan Ruwah (kalender Jawa), berlokasi di pasar Kliwon. Banyak masyarakat dari luar kota yang mengambil waktu untuk menyaksikan langsung prosesi acara ini.

Abdi dalem keraton memimpin jalannya acara, di mana mereka menjalani puasa sebelum pelaksanaan. Cupu Panjala sendiri terdiri dari tiga kendi yang dibungkus kain kafan dan disimpan dalam sebuah peti selama berabad-abad.

Setiap tahunnya, kain kafan yang membungkus kendi diganti. Kain kafan yang telah digunakan untuk membungkus kendi diyakini memiliki ramalan mengenai peristiwa yang akan terjadi dalam satu tahun mendatang.


Semoga ulasan mengenai upacara adat di Yogyakarta dapat menambah wawasan Anda. Jika Anda merasa informasinya bermanfaat, jangan ragu untuk membagikan artikel ini kepada teman-teman Anda.

Berbagi pengetahuan adalah cara yang baik untuk saling memberikan informasi dan memperluas pemahaman bersama. Terima kasih!